Mengaktifkan
Kemampuan Wirausaha Anda
Page 3
“ Niatkan
setiap hari untuk mengerjakan
sesuatu yang semula tak ingin anda kerjakan.
Itulah kaidah emas untuk mendapatkan
kebiasaan baru agar mau mengerjakan tugas
tanpa disertai dengan beban berat “
( Mark
Twain )
Dalam suatu
seminar, seorang pembicaraan biasanya mengambil humor berhikmah untuk
penghilang ketegangan dari beban materi
yang padat informasi. Sering juga humor tersebut mampu menjelas- kan
masalah yang dibahas. Salah satu cerita humor yang menarik,
adalah tentang seorang nelayan yang sedang tidur-tiduran dengan
santai pada ranjang gantung antara dua pohon kelapa dipinggir pantai. Ia nampak menikmati
kesantaian tersebut sambil berkipas-kipas
Seorang pakar manajemen
yang sedang melakukan penelitian mengenai motivasi kerja, melihat perbuatan itu tidak
produktif. Ia mendatangi nelayan tersebut dengan maksud untuk menolong
agar hidupnya menjadi lebih sejahtera.
“ Hai
kawan, maukah engkau saya
tunjukan cara untuk hidup lebih bahagia
?” pancing si Pakar.
“ Oh, ya? Saya mau,
tetapi bagaimana caranya…,” kata si Nelayan dengan nada malas-malasan.
“ Bangkitlah ! Lakukan kerja keras. Saya punya program yang teruji, dengan program ini
engkau akan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar,” kata si Pakar
lagi.
“Untuk apa ? ” si Nelayan balik bertanya.
“ Agar engkau
bisa hidup santai dengan
harta
yang berkecukupan dan
menikmati dengan sambil berkipas-kipas saja lagi,” sambung si Pakar
dengan nada yang meyakinkan.
“Eh, Bung!” teriak si Nelayan dengan nada
keras sambil bangkit dari tidur-tiduran. “Engkau
kira saya ini sedang apa ? Kalau hanya untuk hidup
santai sambil kipas-kipas,
saya sudah dapatkan tanpa perlu bantuan programmu itu ! ”
A. Need for Achievement
Jadi, apa karakter yang diperlukan dan apa
pula yang menjadi penghambat seseorang untuk menjadi wirausaha sukses? Banyak
penelitian dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Jiwa Wirausaha di Amerika Serikat dan banyak Negara lain, difokuskan pada dua kelompok berbeda, yaitu
mereka yang baru memulai usahanya dan mereka yang sudah sukses.
David C. McClelland pada tahun 1953
mengadakan penelitian mengenai kasus nelayan di India yang memiliki sumber daya
berlimpah tetapi “tetap miskin”
. David menemukan fakta bahwa ke-mampuan untuk berprestasi kelompok nelayan
tersebut rendah. Mereka hanya puas dengan ke-adaannya saat itu.Setelah melaku-kan program pengembangan diri, McClelland melihat perubahan prestasi
pada mereka. Kemudian, kemauan seorang
wirausaha, yang relevan dengan konsep kerja keras dari Henry Mintzberg (1973).
Setelah itu, hampir semua pakar sependapat bahwa seorang individu yang
ingin menjadi wira usahawan tapi tidak
mempunyai kegairahan untuk
meraihnya tidak mungkin sukses.
Karena, mereka memiliki kemauan berprestasi yang
rendah. Kemauan berprestasi itu menggambarkan bagaimana sikap
seseorang dalam permainan
lempar gelang, yang
biasa ditemui ditempat hiburan.
Pada umumnya
orang akan melemparkan gelang secara
untung-untungan. Hanya mereka yang ingin
berprestasi tinggi cenderung
memilih dan focus
pada sasaran sulit dengan imbalan besar. Bagi mereka tingkat kesulitan yang tinggi
itulah yang menjadi
tantangan, bukan hadiah-nya. Mereka bukan pejudi dan melakukannya dengan
penuh perhtungan dan pengamatan yang cemat.
McClelland menyebutnya sebagai Need for
Achievement (N-Ach) yang erat
hubungannya dengan teori motivasi Herzbergs
(Herzberg’s Motivation Hygiene Theory).
Bekerja demi pekerjaan itu sendiri dan tidak dipengaruhi oleh besarnya imbalan untuk membuktikan kemampuan
dirinya sebagai pekerja
unggul. Ia lebih menginginkan orang
lain tahu siapa dirinya daripada sebaik apa pekerjaannya.
Dalam bekerja ia cenderung :
1.
Menetapkan target yang lebih tinggi sesuai
sasaran pekerjaan yang dibebankan padanya.
2.
Lebih mementingkan hasil daripada penghargaan
dari orang lain.
3.
Mengharapkan penilaian dari hasil kerjanya
tersebut (how well I doing), bukan
karena orang menyukai dirinya.
Motivasi itulah
yang membedakan dari
orang lain, yang biasanya
tergantung pada lingkungan kerja,
pangkat dan imbalan
dari pekerjaan yang
dikerjakannya. Pada dasarnya
menurut McClelland setiap orang
mempunyai kemauan berprestasi (N-Ach)
yang dilengkapi dengan kemauan berafiliasi atau Need for Afifiliation (N-Aff) dan berkuasa
atau Need for Power
(N-Pow) dalam
perbandingan yang berbeda. Seorang usahawan sukses ternyata mempunyai N-Ach yang dominan. Seorang dengan N-Pow lebih tinggi
cenderung menjadi pemimpin
organisasi (birokrat, partai politik a tau
militer), dan N-Aff dominan
adalah ciri dari orang yang suka bergaul (artis,
entertainer dan relawan).
Lebih lanjut Bruce W. Tuckman (1999) dari
Ohio
State University memperjelas konsep motivasi
untuk mencapai prestasi puncak terbaik sebagai tiga unsur sinergik, yaitu sikap positif (attitude)
atau keyakinan akan kemampuan
diri sendiri, dorongan (drive)
atau keinginan kuat untuk membuktkan kemampuan diri, dan strategi
(strategy) atau cara mencapai tujuan
tersebut.
1. Sikap Positif
Bandura (1997) menemukan hubungan
antara yakin (self-efficacy) dengan
motivasi mencapai prestasi tertentu,
karena tindakan seseorang baru akan
terjadi bila ia merasa mampu melakukannya. Banyak orang yang sebenarnya
mampu, tetapi tidak yakin bisa melakukannya menjadi kehilangan peluang untuk membuktikan kemampuannya tersebut.Sedangkan seseorang yang sebenarnya diragukan kemampuannya tetapi dengan
dorongan semangat rekan-rekannya bahwa “ia
bisa”, ternyata berhasil melakukan dengan baik.
2. Dorongan
Dorongan bertinadak adalah factor lain
yang melipatganda-kan kemampuan seseorang. Kadang-kadang situasi kritis yang
mendesak dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu perbuatan yang luar biasa.
Kirch (1982) menunjukan hasil pengamatannya pada orang yang
dihipnotis, ternyata mampumelakukan hal-hal yang diluar
kemampuannya semula. Doronganatau sugesti dapat diberikan
oleh orang lain ataupun
diri sendiri dengan pengaruh hampir sama.
Niat atau tekad adalah salah satu bentuk hipnotis diri yang positif.
3. Strategi
Strategi dapat memetakan langkah-langkah apa yang
akan dikerjakan untuk mencapai
sesuatu. Itulah yang membedakan antara sang juara dengan pecundang. Strategi bisa muncul dari
inspirasi, melihat pengalaman orang lain, atau modifikasi pengalaman sendiri
yang Nampak hamper sama.
Berpikir strategis terdiri dari penetapan arah atau sasaran, penilaian jarak dan identifikasi hambatan yang harus diatasi, untuk merumuskan tindakan
terprogram yang perlu dilakukan. Bayangkan kalau seseorang
melempar gelang asal lempar saja,tentulah factor keberhasilan
sangat rendah. Dengan strategi,peluang tersebut dapat ditingkatkan menjadi
lebih besar.
B. Etos Bisnis Wirausaha
Mengapa seorang wirausaha dapat lebih tangguh dari yang lainnya? Kunciny
adalah pada etos bisnis, yaitu keyakinan yang kuat dan mendalam mengenai nilai
penting dari bisnis yang ditekuni nya. Seseorang dengan keyakinan bahwa usahanya akan bermakna penuh bagi
hidupnya akan berjuang lebih keras untuk berhasil.
Berbeda dengan seseorang yang menganggap bisnisnya sebagai alternatif mencari uang, bila
menemukan kesulitan dengan cepat meninggalkannya untuk mencari alternatif baru
yang diharapkan lebih mudah.
Etos bisnis yang sering dikaitkan dengan
kepercayaan, mulai berkembang setelah Max Weber mengajukan tesisnya mengenai Protestan Ethic (etika
Protestan) dalam kaitannya dengan pertumbuhan kapitalisme, yaitu living to work instead of working to live
(hidup untuk bekerja, dan bukan bekerja untuk hidup). Sikap inilah yang
menjadi etika kerja yang berlaku di Negara-negara maju di eropa.
Kemudian bermunculah pendapat lain yang memperjelas tesis tersebut.
Misalnya Robert N Bellah dengan konsep Tokugawa
Religion, Clifford Geertz dengan Peddlers and Princes dan Peter
Gran dengan Islamic Roots of
Capitalism.
Seseorang pelaku bisnis sejati “tidak takut melarat” sementara, karena ia
yakin melalui usahanya, ia akan menjadi
“kaya” dibelakang hari. Karena itu, seorang pelaku bisnis
selalu memiliki kesediaan untuk menunda
kesenangan sementara,demi kebahagiaan yang lebih besar nanti. Penundaan kesenangan. (deference of
gratification) adalah selaras dengan s ikap hidup hemat dan tidak k onsumtif. Bagi mereka berlaku pepatah yang mengatakan
bahwa hemat pangkal kaya.
Adapun karakter-karakter yang paling dibutuhkan untuk mendukung
munculnya seorang wira usaha yang berpeluang sukses adalah :
1.
Daya
Gerak (drive)
Inisiatif, semangat, tanggung-jawab,
ketekunan dan kesehatan.
2.
Kemampuan
berpikir (thinking ability)
Gagasan asli, kreatif, kritis
dan analistis.
3.
Kemampuan
membina relasi (communication skills)
Mudah bergaul (sociability),
tingkat emosi stabil (EQ
tinggi), ramah, suka membantu (cheer fullness), kerja sama, penuh pertimbangan (consideration),dan bijaksana (tactfulness)
4.
Mampu
menyampaikan gagasannya (communication
skills)
Terbuka dan dapat menyampaikan
pesan secara lisan (bicara) atau tulisan (memo).
5.
Keahlian khusus
(technical knowledge)
Menguasai proses produksi atau
pelayanan yang dibidanginya, dan tahu darimana mendapatkan informasi yang
diperlukan.
Apakah kunci sukses para wirausaha itu?
Inilah tabir rahasia yang terdiri dari tiga unsur utama,yaitu :
1. Motivasi
Keinginan menjadi sosok yang
berguna bagi masyarakat melalui prestasi kerja sebagai wirausaha.
2. Pengetahuan
Keinginan belajar terus agar
tak menjadi using dalam perubahan situasi persaingan usaha.
3. Menjalani
Keinginan berhasil yang
didukung dengan perencanaan matang yang dipersiapkan secara relistis sesuai dengan kebutuhan
menghadapi persaingan dan kemampuan melaksanankannya.
Rahasia itulah rupanya yang
mengaktifkan kemampuan diri seorang yang berminat menjadi wirausaha tangguh.
C. Leadership
Wirausaha dibangkitkan dari semangat untuk
membuktikan kemampuan diri, karena itu Andalah yang harus menjadi pemimpin dari
seluruh gerakan perubahan yang Anda inginkan. Se-orang pemimpin adalah
pengikat, pengarah dan penggerak tim
kerja yang menjadi bawahannya menuju sasaran
tertentu yang telah
ditetapkan. Kepemimpinan atau leadership adalah salah satu factor penentu suksesnya
sebuah usaha.
Tetapi banyak terjadi
kesalah-kaprahan di dalam
masyarakat, bahwa sosok
pemimpin itu adalah seorang yang kharismatik,
ditakuti, sakti dan serba bisa. Padahal seorang pemimpin di kantor
yang ditakuti itu adalah gambaran pemimpin karikatural yang gagal. Mengapa?
Lihat saja, begitu sang pemimpin tidak berada
di tempat maka bawahannya pun akan bekerja seenaknya.
Karena itu
sebagai wirausaha, anda harus
berlaku sebagai pemimpin yang bijak, Ingatlah, perilaku bawahan Anda sebenarnya adalah refleksi
dari diri Anda memperlakukan
mereka. Semakin dekat dan mengenal
mereka,
Anda dapat menularkan gaya sukses Anda kepada
mereka,sehingga berperilaku pula sebagaimana yang Anda teladankan.
Seorang pemimpin harus terlibat bersama bawahannya,terutama pada
jalur-jalur kritis untuk mengangkat moral dan semangat juang mereka. Sikap Anda
yang optimis dan percaya diri akan menjadi pendorong bagi bawahan Anda untuk
bekerja lebih keras. Kehadiran Anda bersama me- reka itu dapat pula memperkuat
pendapat Anda mengenai mereka, sehingga mereka merasa di- perhatikan. Bila suasana keakraban itu terbina, kritikan Anda kepada
mereka akan diterima sebagai koreksi diri untuk meningkatkan
kualitas diri menjadi lebih tinggi. Sedangkan pujian Anda kepada salah seorang
dari mereka akan langsung menjadi teladan, yang diterima sebagai tambahan energy
bagi seluruh tim.
NEXT PAGE 4
Di edit dari buku Siapa takut jadi pengusaha. penulis “Jackie Ambadar (ceo lemonade dan surindo)”
No comments:
Post a Comment